Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility

Peduli, Inklusi, Solidaritas, Meraih Harapan

Montov

HIV yang Menyerang Daya Tahan Tubuh Manusia

  • 29 Januari 2024
  • 6 menit waktu baca

oleh Pram

Bagikan

HIV, yang merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, adalah virus yang menargetkan dan menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Dengan menyerang sistem kekebalan tubuh, HIV melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit. Meskipun belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit HIV, terdapat berbagai pengobatan yang dapat memperlambat perkembangan penyakit dan memungkinkan penderita untuk menjalani kehidupan yang lebih normal dan sehat. Ketika HIV berkembang menjadi tahap akhir, kondisi ini dikenal sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), di mana tubuh hampir tidak memiliki kemampuan untuk melawan infeksi.

Penyebab

Penyebab penyakit ini adalah virus HIV yang dapat menyebar dengan beberapa cara, yaitu:

  • Hubungan seksual tanpa pelindung dengan orang yang terinfeksi.
  • Penggunaan bersama jarum suntik yang terkontaminasi.
  • Dari ibu ke anak selama kehamilan, saat melahirkan, atau melalui ASI.
  • Transfusi darah yang terkontaminasi.

Gejala

Gejala HIV dapat bervariasi dari orang ke orang dan mungkin tidak selalu langsung terlihat. Seperti yang telah disebutkan, gejala HIV muncul dalam tiga tahap:

1. Tahap Pertama (Serokonversi)

Pada tahap awal, gejala mirip dengan flu atau infeksi ringan lainnya. Ini termasuk:

  • Demam ringan
  • Sakit tenggorokan
  • Ruam
  • Kelelahan
  • Pembengkakan kelenjar limfe
  • Nyeri otot dan sendi

Gejala ini biasanya muncul dalam beberapa minggu setelah terinfeksi dan bisa berlangsung selama beberapa minggu.

2. Tahap Kedua (Fase Asimptomatik atau Fase Klinis Laten)

Selama tahap ini, seseorang mungkin tidak mengalami gejala apa pun. Namun, virus tetap aktif dan terus merusak sistem kekebalan tubuh. Tahap ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun.

3. Tahap Ketiga (AIDS) 

Pada tahap ini, sistem kekebalan tubuh telah sangat melemah, dan gejala yang lebih serius mulai muncul, termasuk:

  • Demam yang berkepanjangan
  • Berkeringat terutama di malam hari
  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
  • Kelelahan kronis
  • Diare berkepanjangan
  • Infeksi jamur di mulut, tenggorokan, atau vagina
  • Kondisi kulit seperti bintik-bintik ungu atau luka yang tidak sembuh
  • Gangguan neurologis termasuk depresi, gangguan memori, dan keterlambatan mental

Diagnosis

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, yang dapat menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Mendeteksi HIV pada tahap awal sangat penting untuk memulai pengobatan dan mengurangi risiko komplikasi. Berikut adalah langkah-langkah yang umumnya diambil dalam mendiagnosis HIV:

1. Konsultasi dan Pemeriksaan Awal

Jika seseorang memiliki gejala yang konsisten dengan infeksi HIV atau memiliki risiko tinggi (misalnya, melalui hubungan seksual tanpa pelindung atau penggunaan jarum suntik bersama), dokter akan menyarankan untuk melakukan tes HIV.

2. Tes Antibodi HIV

Ini adalah tes yang paling umum digunakan untuk mendeteksi infeksi HIV. Tes ini mendeteksi antibodi terhadap HIV dalam darah. Contoh tes antibodi termasuk tes cepat (rapid test) dan tes ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay).

Tes Cepat (Rapid Test): Tes ini dapat memberikan hasil dalam waktu 30 menit dan dapat dilakukan di banyak klinik dan pusat kesehatan. Tes ini biasanya menggunakan sampel darah atau air liur.

Tes ELISA: Tes ini memerlukan sampel darah yang akan dianalisis di laboratorium. Hasilnya mungkin memerlukan beberapa hari.

3. Tes Konfirmasi

Jika tes antibodi positif, tes konfirmasi akan dilakukan untuk memastikan diagnosis. Tes konfirmasi yang umum adalah tes Western Blot atau tes imunoblot.

4. Tes Beban Virus (Viral Load Test)

Jika HIV dikonfirmasi, dokter mungkin akan menyarankan tes beban virus untuk mengukur jumlah virus HIV dalam darah. Ini penting untuk merencanakan pengobatan.

5. Tes CD4

Tes ini mengukur jumlah sel T CD4 dalam darah, yang merupakan indikator penting dari seberapa kuat sistem kekebalan tubuh seseorang. Ini membantu dokter menentukan tahap infeksi HIV dan kapan harus memulai pengobatan.

6. Pengujian Infeksi Oportunistik dan Kondisi Lain

Orang dengan HIV berisiko tinggi terkena infeksi oportunistik dan kondisi lain. Dokter mungkin akan melakukan tes tambahan untuk menilai kesehatan secara keseluruhan dan mendeteksi masalah potensial.

Baca juga:  Prinsip ESSE: HIV Itu Tidak Gampang Menular Lho!

7. Konseling Pra dan Pasca Tes

Sebelum dan setelah tes HIV, konseling adalah bagian penting dari proses diagnosis. Ini membantu individu memahami apa yang diharapkan, opsi pengobatan, dan bagaimana mengelola kondisi mereka.

Penting untuk diingat bahwa diagnosis dini dan pengobatan yang tepat dapat membantu orang dengan HIV menjalani kehidupan yang panjang dan sehat. 

Jika Anda merasa mungkin telah terpapar HIV atau memiliki gejala yang konsisten dengan HIV, sebaiknya bicarakan dengan dokter Anda tentang opsi tes dan pengobatan.

Pengobatan

Meskipun tidak ada obat untuk HIV, ada pengobatan yang dapat membantu mengelola kondisi dan memperlambat perkembangan penyakit.

Terapi Antiretroviral (ART) 

Ini adalah kombinasi dari beberapa obat yang bekerja untuk mengurangi jumlah virus HIV dalam tubuh dan melindungi sistem kekebalan tubuh. ART harus diambil seumur hidup dan memerlukan ketaatan yang ketat untuk efektivitas maksimal.

Profilaksis Pasca-Paparan (PEP)

Ini adalah pengobatan darurat yang diberikan dalam waktu 72 jam setelah paparan yang berisiko tinggi terhadap HIV, seperti hubungan seksual tanpa pelindung dengan orang yang diketahui memiliki HIV.

Profilaksis Pra-Paparan (PrEP)

Ini adalah obat yang diambil oleh orang yang berisiko tinggi terkena HIV, seperti pasangan seksual dari orang dengan HIV, untuk mengurangi risiko infeksi.

Pengobatan Infeksi Oportunistik

Karena sistem kekebalan tubuh yang melemah, orang dengan HIV lebih rentan terhadap infeksi lain. Pengobatan untuk infeksi ini sering diperlukan sebagai bagian dari manajemen HIV.

Pencegahan

Mencegah penularan HIV adalah langkah krusial. Berikut adalah beberapa langkah pencegahan yang bisa diambil:

  • Praktik Seks Aman. Selalu gunakan kondom saat berhubungan seksual untuk mengurangi risiko penularan HIV dan penyakit menular seksual lainnya.
  • Hindari Berbagi Jarum dan Alat Suntik. Jangan pernah berbagi jarum atau peralatan yang digunakan untuk menyuntikkan obat dengan orang lain. Ini adalah salah satu cara umum penularan HIV.
  • Tes dan Konseling. Lakukan tes HIV secara rutin jika Anda berisiko, dan konsultasikan dengan dokter tentang cara-cara pencegahan yang efektif.
  • Edukasi dan Kesadaran. Edukasi tentang HIV dan pentingnya pencegahan harus disebarkan luas. Ini termasuk mengedukasi tentang pentingnya penggunaan kondom, risiko berbagi jarum, dan pentingnya tes dini.
  • Penggunaan PrEP. Bagi mereka yang berisiko tinggi terkena HIV, penggunaan profilaksis pra-paparan (PrEP) bisa menjadi opsi. PrEP adalah obat yang diambil sebelum paparan HIV untuk mengurangi risiko infeksi.
  • Pengobatan Ibu Hamil. Wanita hamil yang terinfeksi HIV harus menjalani pengobatan khusus untuk mengurangi risiko penularan virus ke bayi yang belum lahir.
  • Penggunaan Perlengkapan Medis yang Steril. Pastikan bahwa setiap peralatan medis yang digunakan, seperti jarum untuk tindik atau tato, adalah steril untuk menghindari risiko penularan.

Dengan menggabungkan pengobatan yang efektif dengan langkah-langkah pencegahan yang proaktif, penyebaran HIV dapat dikurangi dan mereka yang terinfeksi dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat dan produktif.

Komplikasi

Ketika sistem kekebalan tubuh melemah akibat HIV, tubuh menjadi rentan terhadap berbagai infeksi dan kondisi, termasuk:

  • Infeksi Paru-Paru. Termasuk pneumonia, yang bisa lebih berat pada orang dengan HIV.
  • Toksoplasmosi. Infeksi parasit yang dapat mempengaruhi otak dan menyebabkan kejang atau penurunan kesadaran.
  • Infeksi Jamur. Seperti candidiasis, yang dapat mempengaruhi mulut, tenggorokan, dan organ lain.
  • Meningiti. Peradangan pada selaput otak yang bisa disebabkan oleh berbagai infeksi.
  • Gangguan Saraf. Termasuk demensia yang bisa dipicu oleh HIV.
  • Wasting Syndrome. Penurunan berat badan yang signifikan, sering disertai diare kronis.
  • HIVAN (HIV-Associated Nephropathy). Gangguan ginjal yang terkait dengan HIV.
  • Kriptosporidiosis. Infeksi saluran pencernaan yang bisa sangat berat pada orang dengan HIV.

Mengelola HIV melibatkan pendekatan yang komprehensif, termasuk pengobatan, dukungan psikososial, dan perubahan gaya hidup. Selain itu, edukasi masyarakat dan pencegahan adalah aspek penting dalam upaya mengurangi penyebaran HIV.

Sumber:

  1. HIV Gov. Diakses 2021. Symptoms of HIV.
  2. University of California San Francisco Health. Diakses 2021. AIDS Signs and Symptoms.

Tentang Penulis

Pria yang hidup dengan HIV dan bekerja di NGO yang bergerak di isu HIV AIDS di Yogyakarta. Selain itu dia juga mejadi role model buat teman sebaya lainnya dan juga memberikan edukasi-edukasi ke masyarakat dan mahasiswa sebagai dosen tamu di beberapa Universitas Swasta di Yogyakarta. Dia juga menjadi tim Advokasi stigma dan diskriminasi bagi teman sebaya. Juga menjadi tim perancangan RUU anti diskriminasi bagi kelompok rentan bersama LSM seluruh Indonesia yang terbentuk dalam KAIN Koalisi Nasional Kelompok Rentan Anti Diskriminasi, pada Desember 2021.

Anda berada di wilayah Yogyakarta dan terpapar HIV?

Jangan takut untuk menghubungi Pita Merah Jogja dan kami akan memberikan pendampingan serta informasi apa yang harus Anda lakukan. Apabila Anda dari luar Yogyakarta juga dapat menghubungi kami, kami akan coba beri informasi sebisa kami.

Sebelumnya

Fitur Aksesibilitas Pada Aplikasi MONTOV Untuk Pemantauan Kesehatan Mandiri Bagi ODHIV dan ODHIV Dengan Disabilitas

Selanjutnya

Harus Tau! Perbedaan Seks Bebas dan Seks Beresiko