Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility

Peduli, Inklusi, Solidaritas, Meraih Harapan

Montov

Penanggulangan HIV dari Hulu ke Hilir

  • 19 Februari 2024
  • 2 menit waktu baca

Bagikan

Istilah dari hulu ke hilir akhir-akhir ini marak terdengar terutama kalau kita menonton acara-acara politik. Dalam penanganan HIV pun istilah dari hulu ke hilir ini sering terdengar. Bahkan kalau sudah menggunakan istilah dari hulu ke hilir ini berarti dari ujung ke ujung diatasi semua masalahnya. Hanya saja mengatasi masalah dari hulu ke hilir ini biasanya hanya fokus ke populasi kunci saja.

Populasi kunci sendiri adalah kelompok masyarakat yang rentan terhadap penularan HIV. Kalau kita membicarakan kelompok masyarakat berarti hanya ada beberapa kelompok masyarakat tertentu yang rentan terhadap penularan HIV. Ya, karena pengertian populasi kunci ini sendiri yang membatasi kelompok masyarakat yang dimaksud adalah pekerja seks, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), dan pengguna narkoba suntik (penasun).

Dengan adanya populasi kunci ini tentu saja penanganan HIV yang dari hulu ke hilir ini hanya fokus kepada mereka padahal pengelompokkan populasi kunci ini justru bermasalah, karena:

  • Setiap orang beresiko terinfeksi HIV. Setiap orang dari kelompok apapun beresiko terkena HIV, tetapi memang orang-orang dalam populasi kunci beresiko lebih besar.
  • Penularan HIV di rumah tangga tidak dianggap populasi kunci. Ini merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan, apakah karena alasan moralitas? Karena penularan HIV di dalam rumah tangga cukup besar.
  • Penularan HIV ke ibu rumah tangga terjadi melalui suaminya. Suami mereka juga berisiko tinggi menularkan HIV, tapi tidak dianggap sebagai populasi kunci.
  • Pekerja seks perempuan dan laki-laki memiliki risiko yang sama tingginya. Bahkan pembeli jasa seks juga berisiko tinggi, tapi mereka tidak dimasukkan ke dalam populasi kunci.

Istilah “Populasi Kunci” sebenarnya hanya membatasi

Jika kita ingin mengatasi HIV dari hulu ke hilir maka kita harus memperhatikan semua kelompok, tidak hanya populasi kunci saja. Akan lebih baik jika kita menyebut kelompok beresiko, seperti pekerja seks, laki-laki, pengguna narkoba, ibu rumah tangga, atau kelompok lainnya, sesuai dengan konteksnya. Kata-kata ini lebih relevan diluar pemrograman dan akan membantu dalam meningkatkan kesadaran di dalam komunitas.

Baca juga:  Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

Tetapi yang paling penting tentu saja aksi nyata untuk meningkatkan kesadaran dan akses terhadap pencegahan dan pengobatan HIV bagi semua orang, tanpa diskriminasi agar penanganan HIV dari hulu ke hilir ini bisa tercapai.

Tentang Penulis

Pita Merah Jogja adalah organisasi yang peduli dan inklusi yang fokus terkait isu HIV/AIDS dengan anggota yang terdiri dari ODHIV, ODHIV dengan Disabilitas, OHIDHA, ADHA dan orang yang peduli dengan isu HIV/AIDS di Yogyakarta

Anda berada di wilayah Yogyakarta dan terpapar HIV?

Jangan takut untuk menghubungi Pita Merah Jogja dan kami akan memberikan pendampingan serta informasi apa yang harus Anda lakukan. Apabila Anda dari luar Yogyakarta juga dapat menghubungi kami, kami akan coba beri informasi sebisa kami.

Sebelumnya

Harus Tau! Perbedaan Seks Bebas dan Seks Beresiko

Selanjutnya

Pengertian dan Makna dari Perilaku Seks yang Aman