Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember merupakan momentum strategis bagi seluruh dunia untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan dukungan terhadap orang dengan HIV (ODHIV). Peringatan ini juga menjadi ajang refleksi dan evaluasi terhadap upaya penanggulangan HIV dan AIDS, sekaligus memperkuat komitmen global untuk mengakhiri epidemi HIV. Meskipun telah banyak kemajuan dalam pencegahan dan pengobatan, berbagai tantangan masih dihadapi, terutama dalam memastikan layanan yang inklusif dan bebas diskriminasi.
Pada tahun 2025, tema “Sinergi Wujudkan Layanan HIV dan AIDS Inklusif” diangkat untuk menegaskan pentingnya kolaborasi harmonis antarberbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, penyedia layanan kesehatan, komunitas ODHIV, penyandang disabilitas, remaja, lansia, komunitas dengan keragaman gender dan seksualitas, serta organisasi masyarakat sipil. Sinergi tersebut menjadi kunci agar layanan HIV dan AIDS dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, serta bebas dari stigma dan diskriminasi yang selama ini menjadi penghambat utama.
Kelompok rentan seperti ODHIV, penyandang disabilitas, remaja, lansia, dan komunitas dengan keragaman gender dan seksualitas kerap menghadapi hambatan yang kompleks dan multidimensional. Hambatan tersebut mencakup keterbatasan akses fisik dan informasi, rendahnya pemahaman masyarakat, serta diskriminasi yang berujung pada pengucilan sosial. Misalnya, penyandang disabilitas sering kali kesulitan memperoleh layanan kesehatan yang ramah dan mudah diakses; remaja dan lansia memiliki kebutuhan spesifik terkait edukasi dan layanan kesehatan; sementara komunitas dengan keragaman gender dan seksualitas kerap menghadapi stigma sosial maupun struktural yang memengaruhi akses terhadap layanan kesehatan yang aman dan setara. Oleh karena itu, layanan kesehatan HIV dan AIDS yang inklusif harus mampu mengakomodasi keragaman kebutuhan tersebut dengan pendekatan holistik dan berkeadilan.
Untuk menjangkau serta melibatkan masyarakat luas secara efektif, kegiatan Hari AIDS Sedunia 2025 dirancang dengan konsep edutainment, yakni metode yang memadukan edukasi dan hiburan. Pendekatan ini diharapkan dapat menarik minat peserta dari berbagai kelompok usia dan latar belakang, sekaligus menciptakan suasana interaktif dan menyenangkan agar pesan-pesan penting terkait HIV dan AIDS tersampaikan dengan lebih efektif. Konsep ini juga mendorong partisipasi aktif berbagai komunitas, tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai penyelenggara dan pelaku kegiatan, termasuk komunitas dengan keragaman gender dan seksualitas yang berperan penting dalam advokasi serta edukasi publik.
Selain aspek edukasi dan hiburan, kegiatan ini juga menitikberatkan pada pemberdayaan ekonomi komunitas melalui penyelenggaraan bazar yang melibatkan komunitas ODHIV, penyandang disabilitas, komunitas dengan keragaman gender dan seksualitas, serta kelompok masyarakat lainnya. Bazar ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kesejahteraan ekonomi komunitas dan organisasi pendukung, tetapi juga memperkuat jaringan sosial serta solidaritas di antara mereka. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi lebih dari sekadar peringatan, melainkan wadah pemberdayaan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.
Selain itu, penyediaan layanan tes HIV gratis selama kegiatan merupakan langkah strategis untuk meningkatkan akses terhadap deteksi dini HIV. Deteksi dini sangat penting dalam mencegah penularan dan memastikan pengobatan dapat dilakukan sedini mungkin. Dengan tersedianya layanan tes yang mudah dijangkau dan ramah, diharapkan stigma serta rasa takut untuk melakukan tes dapat berkurang, dan kesadaran kelompok rentan terhadap pentingnya pemeriksaan HIV secara rutin meningkat.
Melalui rangkaian kegiatan yang terintegrasi dan kolaboratif diharapkan menjadi momentum efektif untuk mendorong terwujudnya layanan HIV dan AIDS yang inklusif, berkeadilan, serta mampu menjawab kebutuhan seluruh lapisan masyarakat termasuk komunitas dengan keragaman gender dan seksualitas sebagai bagian penting dari upaya global menuju kesetaraan dan kesehatan untuk semua.
Kegiatan yang diadakan oleh UPKM/CD Bethesda Yakkum ini dihadiri oleh kelompok masyarakat, perkumpulan, yayasan hingga instansi-instansi pemerintahan di Kota Yogyakarta. Acara ini dimulai dari pagi dan dibuka oleh Walikota Yogyakarta Dr. (H.C.) dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K). Diikuti oleh hiburan-hiburan dan tentu saja terdapat stand bazar dari komunitas. Ada juga Talkshow dan Dialog Interaktif serta Tes HIV gratis.






