Pada tahun 2024–2025, layanan HIV global mengalami tekanan serius akibat pemotongan dana dari sejumlah negara donor utama. Salah satu penyebab utamanya adalah pengurangan kontribusi dari program PEPFAR (The President’s Emergency Plan for AIDS Relief) dan USAID, yang selama ini menjadi tulang punggung pendanaan program HIV di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah (UNAIDS, 2024). Situasi ini telah mengganggu rantai pasokan antiretroviral (ARV), alat tes HIV, serta layanan pencegahan dan perawatan berbasis komunitas.
Indonesia merupakan salah satu negara yang terdampak atas krisis ini. Data dari Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa hingga akhir 2023 terdapat sekitar 570.000 orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) di Indonesia. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan beban HIV tertinggi di Asia Tenggara dan ke-16 secara global (Kemenkes RI, 2023; UNAIDS, 2023). Dengan jumlah kasus yang tinggi dan ketergantungan pada dukungan luar negeri, krisis pasokan ARV menjadi ancaman besar terhadap keberlangsungan terapi dan upaya pengendalian epidemi HIV.
Secara nasional, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memang tidak termasuk dalam 11 provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi di Indonesia. Namun, dengan lebih dari 8.000 kasus HIV yang tercatat hingga 2024, DIY tetap menghadapi risiko akibat krisis pasokan ARV dan menurunnya ketersediaan layanan pendukung lainnya (SIHA Ditjen P2P, 2024). Bahkan, tekanan terhadap sistem layanan HIV di daerah ini menjadi semakin nyata dengan keterbatasan distribusi logistik, keterlambatan suplai obat, serta potensi putusnya kesinambungan layanan berbasis komunitas.
Kondisi ini dapat dikategorikan sebagai bencana non-alam, yakni krisis kesehatan masyarakat yang tidak disebabkan oleh faktor geofisik, namun berdampak langsung terhadap kelompok rentan. Dalam konteks ini, diperlukan respons sistemik dan kolaboratif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga layanan kesehatan, dan organisasi masyarakat sipil.
Salah satu pendekatan inovatif yang telah dikembangkan di DIY melalui Pita Merah Jogja adalah sistem MONTOV (Monitoring kesehatan ODHIV), sebuah aplikasi berbasis komunitas yang dikembangkan untuk memantau kondisi kesehatan ODHIV, memudahkan pencarian layanan kesehatan terdekat kita, memahami konsep-konsep dalam, isu HIV dan kebencanaan, dan beberapa hal lainnya. Dalam situasi krisis seperti yang kami imajinasikan ini, harapannya MONTOV memiliki sebagai alat monitoring, tetapi juga sebagai mekanisme advokasi berbasis data yang memungkinkan intervensi lebih tepat sasaran. Ada layanan aduan dari pengguna atas masalah yang dihadapi. Misal stigma dan diskriminasi, kelangkaan obat dan berbagai permasalahan lainnya.
Melalui pemetaan kebutuhan komunitas dan layanan HIV, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat integrasi data dari lapangan, mengidentifikasi kendala yang dihadapi oleh kelompok ODHIV dan pendamping komunitas, serta menyusun rekomendasi strategis yang dapat digunakan dalam pengembangan modul atau fitur tambahan dalam sistem MONTOV. Pemetaan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi komunitas sebagai aktor kunci dalam menjawab krisis layanan HIV di tingkat lokal.
Selain itu, kegiatan ini akan mendorong keterlibatan aktif dari organisasi masyarakat sipil di DIY, seperti PMJ (Pita Merah Jogja), dalam menjembatani suara komunitas dengan pembuat kebijakan. Dengan menjadikan hasil pemetaan sebagai bahan advokasi, diharapkan pemerintah daerah dapat meningkatkan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan layanan HIV, terutama di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Tujuan kegiatan
- Mengidentifikasi dampak krisis pasokan ARV dan gangguan layanan HIV lainnya terhadap kelompok rentan, khususnya orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
- Memetakan kebutuhan komunitas dan layanan HIV, termasuk hambatan dalam akses pengobatan, dukungan psikososial, dan layanan berbasis komunitas di tingkat wilayah.
- Mengumpulkan masukan dan pengalaman komunitas ODHIV serta pendamping lapangan, guna memperkuat data dan informasi berbasis komunitas sebagai dasar perencanaan respons layanan HIV.
- Mendukung pengembangan fitur dan arah kebijakan sistem MONTOV, sehingga dapat merespons krisis layanan secara lebih adaptif dan tepat sasaran di tingkat lokal.
- Mendorong keterlibatan aktif komunitas dan jaringan masyarakat sipil dalam advokasi perlindungan hak atas kesehatan dan keberlanjutan layanan HIV, termasuk dalam kondisi darurat logistik dan pendanaan.
Output yang diharapkan
- Dokumen hasil pemetaan komunitas dan layanan HIV di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mencakup identifikasi kebutuhan, tantangan, serta potensi solusi dari perspektif komunitas dan tenaga pendamping lapangan.
- Peta isu utama dampak krisis pasokan ARV dan layanan HIV, termasuk risiko terhadap keberlangsungan perawatan, akses obat, layanan dukungan psikososial, serta keterbatasan logistik dan pendanaan.
- Rekomendasi berbasis komunitas untuk memperkuat sistem layanan HIV, termasuk strategi antisipatif terhadap potensi krisis pasokan di masa depan, dan penguatan peran komunitas dalam menjaga kesinambungan layanan.
- Masukan langsung dari komunitas dan pemangku kepentingan lokal sebagai bahan pengembangan fitur dan kebijakan dalam aplikasi pemantauan MONTOV, agar semakin responsif terhadap kondisi lapangan.
- Peningkatan kesadaran dan solidaritas antar pemangku kepentingan, baik dari unsur komunitas, pemerintah daerah, maupun mitra organisasi masyarakat sipil, dalam memperjuangkan hak atas layanan kesehatan bagi ODHIV di tengah situasi darurat non-alam.
Waktu dan tempat pelaksanaan
- Hari/Tanggal: Sabtu, 9 Agustus 2025
- Waktu: 08.45 WIB – selesai
- Tempat: Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) Kalurahan Bener
Peserta kegiatan
Semua anggota Perkumpulan Pita Merah Jogja (PMJ)
Susunan acara
| Waktu | Keterangan | Penanggungjawab |
|---|---|---|
| 08.45 – 09.00 | Registrasi peserta dan pembukaan | Liza Juniawati dan Bagas |
| 09.00 – 09.20 | Sambutan dari Koordinator PMJ | Eva Dewa Masyitha |
| 09.20 – 09.40 | Paparan singkat: Kondisi ARV & layanan HIV di DIY | Eva Dewa Masyitha |
| 09.40 – 11.00 | Sesi Diskusi I: Pemetaan kebutuhan komunitas | Panitia |
| 11.00 – 12.00 | Sesi Diskusi II: Solusi dan peran komunitas | Panitia |
| 12.00 – 12.30 | Penajaman hasil diskusi & rencana tindak lanjut bersama | Panitia |
| 12.30 – Selesai | Penutup dan makan siang bersama | Panitia |
Penutup
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Pita Merah Jogja untuk memperkuat peran komunitas dalam menghadapi tantangan sistemik, termasuk krisis pasokan antiretroviral (ARV) yang tengah berlangsung. Melalui pendekatan partisipatif dan pemetaan berbasis bukti lapangan, kami berharap hasil kegiatan ini dapat menjadi dasar yang kuat untuk advokasi dan perencanaan layanan HIV yang lebih responsif, inklusif, dan berkelanjutan di tingkat lokal maupun nasional.

Dengan dukungan dari Proyek IDEAKSI (Ide, Inovasi, Aksi, Inklusi) melalui YAKKUM Emergency Unit (YEU) dan dukungan Kemitraan yang dilakukan YEU untuk Inovasi Berbasis Komunitas sejak April 2020 hingga Maret 2025 bersama dukungan dari Elrha, Start Network, dan Asia Disaster Reduction and Response Network (ADRRN) atas kemitraan ini, yang didanai oleh UK Foreign, Commonwealth, and Development Office (FCDO), kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Kami percaya bahwa semangat solidaritas dan kolaborasi antar pemangku kepentingan adalah kunci dalam menciptakan layanan HIV yang adil dan berpihak pada kelompok rentan. Untuk itu, kami mengundang seluruh pihak terkait untuk turut serta dan berkontribusi aktif dalam proses ini, demi terwujudnya sistem layanan kesehatan yang bermartabat bagi semua.



